Muhammad Abdul Qadir Jaelani Dai Dari Kupang NTT

Muhammad Abdul Qadir Jaelani Dai Tanpa Gelar Sarjana

Ketika saya hendak menuju kamar tamu tiba-tiba muncul sesosok laki-laki tua. Perawakannya tegap, jenggot panjang yang sudah memutih dan hidungnya yang mancung. Setelah berpapasan beliau menjawab salam saya sembari tersenyum.

Tak lama kemudian kami duduk-duduk diruangan depan. Sebagai anak muda saya tentu mendahului pertanyaan. Hingga terjadilah obrolan yang mengasikkan..

Ya, dialah Bpk Jaelani dengan nama panjangnya Muhammad Abdul Qadir Jaelani. Beliau berasal dari Kupang, NTT. Beliau datang ke pulau jawa dalam rangka undangan sebuah ormas Islam Hidayatullah untuk mendapatkan hadiah berupa umroh ramadhan.

Tradisi Hidayatullah saat ini adalah meng-Umrohkan para dai-dai yang sudah malang melintang di daerah-daerah disetiap ramadhan. Setiap tahunnya tidak kurang dari 5 orang yg diberangkatkan. Program ini sebagai wujud peduli para dai yang telah rela berjuang tanpa pamrih demi tersebarnya dakwah tauhid dibumi pertiwi.

Salah satu yang mendapatkan hadiah barokah ini adalah Bpk. Jaelani. Walaupun sudah sepuh tapi masih mempunyai semangat juang menyebarkan islam di propinsi yang mayorita kristen itu.

Bapak Jaelani menceritakan,
Dulu kami berdakwah serasa sendiri, ditahun 80an kami harus menghadapi beratnya medan perjalanan, tidak ada jalan beraspal dan sedikitnya umat Islam. Kampung dari Kupang berjarak lebih dari 200 KM.
Kami berdakwah harus sangat hati-hati tanpa menyinggung masyarakat mayoritas kafir. Karena ini sangat riskan menyangkut keselematan umat islam di NTT.

Tiap bulan kami selalu silaturrahmi ke kawan-kawan untuk mengadakan pengajian agar terjaga akidah kami. Tentunya, dengan pemahaman ilmu agama semampunya.

Ditahun 90an, alhamdulillah jalan-jalan mulai diaspal. Kami bisa lebih leluasa untuk mengembang dakwah Islam disana. Pada waktu itu kami tidak mengenal pergerakan-pergerakan Islam. Yang kami tahu, kami harus menyebarkan Islam yang benar.

Kemudian kami mengenal hidayatullah, sebuah lembaga yang paling gencar menyebar para dainya ke daerah-daerah terpencil. Walaupun mereka banyak kekurangan tapi tekadnya sangat luar biasa.

Walaupun saya sudah tua tapi Alhamdulillah kami masih bisa menyempatkan diri mengadakan pengajian kecil-kecilan di NTT. Untuk menopang ekonomi keluarga, kami buat keripik pisang sebagai kerjaaan sampingan. Walaupun tak seberapa tapi insya Allah cukup..

Ketika saya mendengar bahwa saya mendapatkan jatah umroh tahun ini. Saya sangat bahagia, hingga saya menangis.. subhanallah saya tidak menyangka bisa umroh nak. Bahkan baru kali ini saya melihat dan naik pesawat terbang...

Begitulah obrolan kami kemarin, dan masih banyak cerita-cerita yang masya Allah menggugah selera untuk berdakwah ilallah..

Dan hari ini Bpk. Jaelani sudah menginjakkan kakinya di tanah Harom.

Comments

Popular posts from this blog

Arti Dari Mumet

Cari Wanita yang Bisa di Poligami, Inilah orangnya !!

Apa Hukum Menjadi Tukang Parkir?